Perumahan tradisional Indonesia memiliki keindahan dan filosofi yang dalam. Memahami filosofi di balik perumahan tradisional Indonesia dapat memberikan kita wawasan yang mendalam tentang budaya dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh nenek moyang kita.
Menurut pakar arsitektur, Bambang Eryudhawan, perumahan tradisional Indonesia memiliki filosofi yang erat kaitannya dengan hubungan antara manusia dan alam. Bambang menyatakan bahwa “Perumahan tradisional Indonesia dibangun dengan memperhatikan tata letak yang seimbang dengan alam sekitarnya. Hal ini mencerminkan keharmonisan antara manusia dan alam yang menjadi filosofi utama dalam budaya Indonesia.”
Salah satu contoh perumahan tradisional Indonesia yang sarat dengan filosofi adalah rumah adat Toraja. Rumah adat Toraja memiliki desain yang unik, dimana bagian atapnya melengkung ke atas seperti tanduk kerbau. Menurut ahli antropologi, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar, atap yang melengkung ke atas tersebut melambangkan kekuatan dan ketangguhan masyarakat Toraja dalam menghadapi segala cobaan dan tantangan.
Selain itu, rumah adat Minangkabau juga memiliki filosofi yang dalam. Arsitektur rumah adat Minangkabau yang berbentuk seperti tanduk kerbau disebut sebagai “rumah bagonjong”. Menurut peneliti budaya Minangkabau, Syofian S. Hadi, rumah bagonjong melambangkan kebersamaan dan kesatuan dalam masyarakat Minangkabau. “Rumah bagonjong adalah simbol dari adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah yang mengajarkan pentingnya kebersamaan dan persatuan dalam hidup bermasyarakat,” ujar Syofian.
Dengan memahami filosofi di balik perumahan tradisional Indonesia, kita dapat lebih menghargai warisan budaya yang telah ditinggalkan oleh nenek moyang kita. Semoga keindahan dan kearifan lokal dalam perumahan tradisional Indonesia dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.